<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Tuntunan dan Tontonan (1)</title>
	<atom:link href="http://ferryardian.net/opini/tuntunan-dan-tontonan-1/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ferryardian.net/opini/tuntunan-dan-tontonan-1/</link>
	<description>sebuah dokumentasi, karya &#38; pengabdian</description>
	<lastBuildDate>Tue, 01 Nov 2011 02:20:48 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: Fithra Faisal</title>
		<link>http://ferryardian.net/opini/tuntunan-dan-tontonan-1/comment-page-1/#comment-14</link>
		<dc:creator>Fithra Faisal</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Apr 2008 10:56:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.ferryardian.net/?p=12#comment-14</guid>
		<description>Sepakat pak, cuma pingin tanya, apakah definisi tontonan itu sedemikian rigid sehingga dijadikan sebagai al batil? karena sangat boleh jadi tontonan bisa dijadikan tuntunan dalam konotasi yang positif. Seperti misalnya film Ayat-ayat cinta yang tempo hari ditayangkan, sebuah tontonan yang kental akan nuansa religiusitas. 

Film ini bisa membius orang-orang untuk berbondong-bondong datang dan menonton. mulai dari remaja hingga orang tua, dari rakyat jelata hingga pejabat langitan, dari pelaku hedonisme hingga aktivis keislaman. 
Hal ini pada gilirannya membuka lembaran baru pada dunia entertainment yang sudah terlanjur mendapat stigma glamor dan hedonis dari sebagian kalangan. Film AAC seakan menjadi anthitesa dari semua prasangka. Sebuah tontonan yang bermakna, tontonan yang layak untuk dijadikan tuntunan.

Sekian pertanyaan saya pak, jika memang definisi tuntunan dari artikel ini hanyalah sebuah kiasan, maka ane paham dan tidak usah dijelaskan lagi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sepakat pak, cuma pingin tanya, apakah definisi tontonan itu sedemikian rigid sehingga dijadikan sebagai al batil? karena sangat boleh jadi tontonan bisa dijadikan tuntunan dalam konotasi yang positif. Seperti misalnya film Ayat-ayat cinta yang tempo hari ditayangkan, sebuah tontonan yang kental akan nuansa religiusitas. </p>
<p>Film ini bisa membius orang-orang untuk berbondong-bondong datang dan menonton. mulai dari remaja hingga orang tua, dari rakyat jelata hingga pejabat langitan, dari pelaku hedonisme hingga aktivis keislaman.<br />
Hal ini pada gilirannya membuka lembaran baru pada dunia entertainment yang sudah terlanjur mendapat stigma glamor dan hedonis dari sebagian kalangan. Film AAC seakan menjadi anthitesa dari semua prasangka. Sebuah tontonan yang bermakna, tontonan yang layak untuk dijadikan tuntunan.</p>
<p>Sekian pertanyaan saya pak, jika memang definisi tuntunan dari artikel ini hanyalah sebuah kiasan, maka ane paham dan tidak usah dijelaskan lagi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

