ferryardian

sebuah dokumentasi, karya & pengabdian
01
Dec
2007

Tuntunan dan Tontonan (1)

Terkadang kita mendengar ungkapan jangan dijadikan tuntunan sebagai tontonan dan tontonan sebagai tuntunan. Tentunya tuntunan dalam posisinya sebagai Al haq dan tontonan dalam posisinya sebagai Al bathil. Meskipun dari sisi penulisan memiliki perbedaan yang kecil, yaitu huruf u dan o namun secara makna keduanya sangatlah berseberangan. Tontonan secara bahasa berarti pertunjukan dan tuntunan secara bahasa berarti bimbingan, petunjuk atau pedoman. Walaupun dalam praktek lapangannya terkadang menjadi terbalik, tontonan menjadi tuntunan dan tuntunan menjadi tontonan. Bila ini yang terjadi maka kita bisa membayangkan apa yang akan terjadi?

Tuntunan berarti tata nilai yang dengan tata nilai tersebut seseorang atau sekelompok orang akan beroleh petunjuk dalam menapaki jalan kehidupan. Dengan demikian tuntunan tidak akan berdiri sendiri, akan tetapi dia membutuhkan pembawa nilai yang akan mendakwahkannya ke tengah ummat. Nilai dan pembawa nilai adalah ibarat dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan, yang satu menguatkan yang lain. sebenar apapun nilai tuntunan manakala pembawa nilainya tidak mempresentasikan nilai yang dibawa maka nilai tersebut sulit dibumikan. Bisa jadi dalam kondisi seperti ini tuntunan akan jadi tontonan alias dicemooh dan dilecehkan. Namun sebaliknya jika si pembawa nilai menghayati nilai kebaikan yang dibawa meskipun nilai tersebut bukanlah kebenaran bisa jadi nilai tersebut tetap bertahan di tengah kehidupan.

Sedemikian teramat penting dan strategisnya pembawa risalah dalam mengemban posisi sebagai juru dakwah. Ketauladanan menjadi harga mati buat mereka yang akan membawa misi mulia. Tidak ada satupun Nabi yang tidak menjadi tauladan bagi kaumnya. Mereka tidak akan bicara sebelum mereka mengerjakan sebuah seruan dan menyerukan kepada keluarganya. Pembawa risalah adalah bagian yang sulit dipisahkan dari tuntunan itu sendiri. Ketika dia mampun mempertontonkan nilai secara konsisten maka dia akan menjadi penguat tuntunan, dan dia akan menjadi tokoh yang mengagumkan. (bersambung)

Disadur dari :
Taujihat Tarbawiyah Deputi Kaderisasi,

Bidang Pembinaan Kader DPW PKS DKI Jakarta

1 komentar

  1. Sepakat pak, cuma pingin tanya, apakah definisi tontonan itu sedemikian rigid sehingga dijadikan sebagai al batil? karena sangat boleh jadi tontonan bisa dijadikan tuntunan dalam konotasi yang positif. Seperti misalnya film Ayat-ayat cinta yang tempo hari ditayangkan, sebuah tontonan yang kental akan nuansa religiusitas.

    Film ini bisa membius orang-orang untuk berbondong-bondong datang dan menonton. mulai dari remaja hingga orang tua, dari rakyat jelata hingga pejabat langitan, dari pelaku hedonisme hingga aktivis keislaman.
    Hal ini pada gilirannya membuka lembaran baru pada dunia entertainment yang sudah terlanjur mendapat stigma glamor dan hedonis dari sebagian kalangan. Film AAC seakan menjadi anthitesa dari semua prasangka. Sebuah tontonan yang bermakna, tontonan yang layak untuk dijadikan tuntunan.

    Sekian pertanyaan saya pak, jika memang definisi tuntunan dari artikel ini hanyalah sebuah kiasan, maka ane paham dan tidak usah dijelaskan lagi.

Komentarnya dong...